Wednesday, October 28, 2009

dy

huuuum..sepertinya beberapa minggu ini dan kedepan saya sedang menghadapi orang2 yang sedikit bicara..yang selalu menuangkannya ke dalam tulisan2 mereka...dan akhirna saya lah yang berinisiatif untuk mengartikannya...*ntar kalo salah yo maaf yoo..suruh sapa gag ngumung lgsng*

dan tia yang sangat cerewet ini kelimpungan sendiri ketika menghadapi orang2 pendiam itu..ada waktu dimana kami benar2 diam dan saya selalu memutar otak untuk memecah keheningan ini...hahahahah...ada saran?

hemm...tapi tapi tapi..t merasa nyaman...dan ketika t mengacak2 beberapa lembar tentang dy..hemm...yayayaya...itulah yang t suka...hahahhahaa...sudahlah...

sebentar lagi t mu toefl...sepertina bisa dilanjutkan nanti...*napa kalo nulis ttg ini selalu gag jelas..wew...*

Tuesday, October 27, 2009

>.< jelek >.<

kemarin, akhirna aku ketemu lagi ma dy...bener aja kan mukanya pucet penuh dengan masalah..
tapi..lagi2..dy gag pernah mu crita...selalu bilang...

"nduut...kapan aku mu crita ma kamu???!!!pe matipun aku gag kan mu crita!"

aarrgghh...pengen banget rasana nampar tu muka...sok-sok dewasa dan bisa menyelesaikan masalahnya sendiri...huum...memang jalan terbaik ialah menunggu dy crita sendiri..tanpa harus dipaksa...

akhirna pun kami jalan tanpa arah..nyari supermarket pe nyasar ke perbatasan jogja...hahahhaa...itulah dy..selalu melakukan hal2 aneh dan aku suka hal2 itu..wew..

ntahlah...apa yang terjadi pada sahabatku satu itu..sebenernya mudah sekali ditebak..saat2 tertentu dy buka beberapa clue dan akhirna pun aku yang harus merangkainya..ketika aku menjadi seorang yang sangat sok tau tentang hidupna..nanti dy marah2 gag jelas karna sepertinya aku telah membuka2 arsip privasinya...dudududududuuduuu....

yaah...apapun kamu kawan...t ada disini...yang bakal selalu berusaha ada buat kamu...

Monday, October 26, 2009

keluarga yang penuh dengan cinta kasih *mario teguh*

Kunci bagi keberhasilan yang seimbang adalah sebuah keluarga yang penuh dengan cinta kasih.

Ambillah rumah kecil yang sesederhana apa pun. Ia akan lebih indah daripada istana semegah apa pun yang berisi pertengkaran.

Ingatlah, bahwa

Tujuan dari semua keberhasilan
adalah pulang ke rumah dengan perasaan damai.

Apakah yang sebetulnya kita harap untuk dicapai
dengan upaya berkelanjutan dan tanpa letih
untuk menemukan kesalahan satu sama lain,
dan menggunakan semua muslihat untuk membuktikan bahwa pasangan kita salah?

Apakah kita membutuhkan kemarahan
dan kebencian sebagai jalan untuk
mencapai kehidupan yang baik dan berbahagia?

Mengapakah kita tidak memilih suasana yang damai, pengertian yang menerima dan memaafkan, ketulusan yang memesrakan, dan kepolosan yang menggembirakan?

Mengapakah demikian penting bagi kita untuk merasa benar di atas kesalahan kekasih hati kita?

Jika kita saling mengasihi, mengapakah kita mengupayakan kepuasan dari penyiksaan hati kekasih kita?

Mengapakah kita tidak saling mengupayakan kegembiraan bagi satu sama lain?

Mengapakah kita tidak melihat bahwa kesedihan hati kekasih kita adalah pencacatan kehidupan kita sendiri?

Mengapakah penting bagi kita untuk merasa menang dalam keluarga yang pasangannya terkalahkan dan terkecilkan?

Marilah kita lebih berkasih sayang.

Bahagiakanlah kekasih Anda, karena itu adalah cara terdekat untuk membahagiakan diri Anda sendiri.

Indahkanlah kecintaan Anda kepada keluarga,
karena cara terdekat untuk memperbaiki rezeki adalah
meningkatkan kualitas kasih sayang di keluarga.

Berlakulah lebih damai,
lalu perhatikan apa yang terjadi.

http://www.facebook.com/photo.php?pid=2510901&id=52472954880


semakin sayang mamah...mamah..mamah...papah...wildan..zaidan..teteh...ibu...smuanaa...

Saturday, October 24, 2009

buat yang mau jadi wanita karir, kudu baca ini nih (sharing dari note orang)

Semoga bermanfaat terutama bagi para ibu.
Untuk seorang ibu yang sibuk bekerja dan bekerja....l

Saya seorang ibu dengan 2 orang anak , mantan direktur sebuah Perusahaan multinasional. Mungkin anda termasuk orang yang menganggap saya orang yang berhasil dan sukses dalam karir namun sungguh jika seandainya saya boleh memilih maka saya akan berkata kalau lebih baik saya tidak seperti sekarang dan menganggap apa yang saya raih sungguh sia-sia.
Semuanya berawal ketika putri saya satu-satunya yang berusia 19 tahun baru saja meninggal karena overdosis narkotika.
Sungguh hidup saya hancur berantakan karenanya, suami saya saat ini masih terbaring di rumah sakit karena terkena stroke dan mengalami kelumpuhan karena memikirkan musibah ini.
Putera saya satu-satunya juga sempat mengalami depresi berat dan Sekarang masih dalam perawatan intensif sebuah klinik kejiwaan, dia juga merasa sangat terpukul dengan kepergian adiknya. Sungguh apa lagi yang bisa saya harapkan.
Kepergian Maya dikarenakan dia begitu guncang dengan kepergian Bik Inah pembantu kami..Hingga dia terjerumus dalam pemakaian Narkoba.
Mungkin terdengar aneh kepergian seorang pembantu bisa membawa dampak Begitu hebat pada putri kami.
Harus saya akui bahwa bik Inah sudah seperti keluarga bagi kami, dia telah ikut bersama kami sejak 20 tahun yang lalu dan ketika Doni berumur 2 tahun.
Bahkan bagi Maya dan Doni, bik Inah sudah seperti ibu kandungnya sendiri.
Ini semua saya ketahui dari buku harian Maya yang saya baca setelah dia meninggal..Maya begitu cemas dengan sakitnya bik Inah, berlembar-lembar buku hariannya berisi hal ini.
Dan ketika saya sakit (saya pernah sakit karena kelelahan dan diopname di rumah sakit selama 3 minggu)
Maya hanya menulis singkat sebuah kalimat di buku hariannya "Hari ini Mama sakit di Rumah sakit" , hanya itu saja.
Sungguh hal ini menjadikan saya semakin terpukul. Tapi saya akui ini semua karena kesalahan saya.
Begitu sedikitnya waktu saya untuk Doni, Maya dan Suami saya.
Waktu saya habis di kantor, otak saya lebih banyak berpikir tentang keadaan perusahaan dari pada keadaan mereka.
Berangkat jam 07:00 dan pulang di rumah 12 jam kemudian, bahkan mungkin lebih.
Ketika sudah sampai rumah rasanya sudah begitu capai untuk memikirkan urusan mereka.
Memang setiap hari libur kami gunakan untuk acara keluarga, namun sepertinya itu hanya seremonial dan rutinitas saja, ketika hari Senin tiba saya dan suami sudah seperti "robot" yang terprogram untuk urusan kantor.
Sebenarnya ibu saya sudah berkali-kali mengingatkan saya untuk berhenti bekerja sejak Doni masuk SMA namun selalu saya tolak, saya anggap ibu terlalu kuno cara berpikirnya.
Memang Ibu saya memutuskan berhenti bekerja dan memilih membesarkan kami 6 orang anaknya.
Padahal sebagai seorang sarjana ekonomi karir ibu waktu itu katanya sangat baik.
Dan ayahpun ketika itu juga biasa-biasa saja dari segi karir dan penghasilan.
Meski jujur saya pernah berpikir untuk memutuskan berhenti bekerja dan mau mengurus Doni dan Maya, namun selalu saja perasaan bagaimana kebutuhan hidup bisa terpenuhi kalau berhenti bekerja, dan lalu apa gunanya saya sekolah tinggi-tinggi? .
Meski sebenarnya suami saya juga seorang yang cukup mapan dalam karirnya dan penghasilan.
Dan biasanya setelah ada nasehat ibu saya menjadi lebih perhatian pada Doni dan Maya namun tidak lebih dari dua minggu semuanya kembali seperti asal urusan kantor dan karir fokus saya.
Dan kembali saya menganggap saya masih bisa membagi waktu untuk mereka, toh teman yang lain di kantor juga bisa dan ungkapan "kualitas pertemuan dengan anak lebih penting dari kuantitas" selalu menjadi patokan saya.
Sampai akhirnya semua terjadi dan diluar kendali saya dan berjalan begitu cepat sebelum saya sempat tersadar.
Maya berubah dari anak yang begitu manis menjadi pemakai Narkoba.
Dan saya tidak mengetahuinya! !! Sebuah sindiran dan protes Maya saat ini selalu terngiang di telinga.
Waktu itu bik Inah pernah memohon untuk berhenti bekerja dan memutuskan kembali ke desa untuk membesarkan Bagas, putera satu-satunya, setelah dia ditinggal mati suaminya .. Namun karena Maya dan Doni keberatan maka akhirnya kami putuskan agar Bagas dibawa tinggal bersama kami..
Pengorbanan bik Inah buat Bagas ini sangat dibanggakan Maya.
Namun sindiran Maya tidak begitu saya perhatikan. Akhirnya semua terjadi , setelah tiba-tiba jatuh sakit kurang lebih dua minggu, bik Inah meninggal dunia di Rumah Sakit.
Dari buku harian Maya saya juga baru tahu kenapa Doni malah pergi dari rumah ketika bik Inah di Rumah Sakit.
Memang Doni pernah memohon pada ayahnya agar bik Inah dibawa ke Singapore untuk berobat setelah dokter di sini mengatakan bahwa bik Inah sudah masuk stadium 4 kankernya.
Dan usul Doni kami tolak hingga dia begitu marah pada kami. Dari sini saya kini tahu betapa berartinya bik Inah buat mereka, sudah seperti ibu kandungnya! menggantikan tempat saya yang seolah hanya bertugas melahirkan mereka sajake dunia.
Tragis !
Dan sebuah foto "keluarga" di dinding kamar Maya sering saya amati Kalau lagi kangen dengannya. Beberapa bulan yang lalu kami sekeluarga ke desa bik Inah.
Atas desakan Maya kami sekeluarga menghadiri acara pengangkatan Bagas sebagai kepala sekolah madrasah setelah dia selesai kuliah dan belajar di pesantren..
Dan Doni pun begitu bersemangat untuk hadir di acara itu padahal dia paling susah untuk diajak ke acara serupa di kantor saya atau ayahnya.
Dan difoto "keluarga" itu tampak bik Inah, Bagas, Doni dan Maya tersenyum bersama..
Tak pernah kami lihat Maya begitu senang seperti saat itu dan seingat saya ..itulah foto terakhirnya.
Setelah bik Inah meninggal Maya begitu terguncang dan shock, kami sempat merisaukannya dan membawanya ke psikolog ternama di Jakarta .
Namun sebatas itu yang kami lakukan setelah itu saya kembali berkutat dengan urusan kantor.
Dan di halaman buku harian Maya penyesalan dan air mata tercurah.
Maya menulis :
"Ya Tuhan kenapa bik Inah meninggalkan Maya, terus siapa yang bangunin Maya, siapa yang nyiapin sarapan Maya, siapa yang nyambut Maya kalau pulang sekolah, Siapa yang ngingetin Maya buat berdoa, siapa yang Maya cerita kalau lagi kesel di sekolah, siapa yang nemenin Maya kalo nggak bisa tidur....... ...Ya Tuhan , Maya kangen banget sama bik Inah"
bukankah itu seharusnya tugas saya sebagai ibunya, bukan bik Inah ?
Sungguh hancur hati saya membaca itu semua, namun semuanya sudah terlambat tidak mungkin bisa kembali, seandainya semua bisa berputar kebelakang saya rela berkorban apa saja untuk itu.
Kadang saya merenung sepertinya ini hanya cerita sinetron di TV dan saya pemeran utamanya. Namun saya tersadar ini real dan kenyataan yang terjadi.
Sungguh saya menulis ini bukan berniat untuk menggurui siapapun tapi sekedar pengurang sesal saya semoga ada yang bisa mengambil pelajaran darinya.
Biarkan saya yang merasakan musibah ini karena sungguh tiada terbayang beratnya.
Semoga siapapun yang membaca tulisan ini bisa menentukan "prioritas hidup dan tidak salah dalam memilihnya". Biarkan saya seorang yang mengalaminya.
Saat ini saya sedang mengikuti program konseling/therapy untuk menentramkan hati saya.
Berkat dorongan seorang teman saya beranikan tulis ini semua.
Saya tidak ingin tulisan ini sebagai tempat penebus kesalahan saya, karena itu tidak mungkin! Dan bukan pula untuk memaksa anda mempercayainya, tapi inilah faktanya.
Hanya semoga ada yang memetik manfaatnya.
Dan saya berjanji untuk mengabdikan sisa umur saya untuk suami dan Doni.
Dan semoga Tuhan mengampuni saya yang telah menyia-nyiakan amanahNya pada saya.
Dan disetiap berdoa saya selalu memohon "YA Tuhan seandainya Engkau akan menghukum Maya karena kesalahannya, sungguh tangguhkanlah Ya Tuhan,
biar saya yang menggantikan tempatnya kelak, biarkan buah hatiku tentram di sisiMu".
============ ======
PT.OTICS Indonesia
Production Control Dept.
Marketing & Prod. Control Div.

http://www.facebook.com/digunawan?ref=ts#/note.php?note_id=173342589296&ref=mf

Thursday, October 22, 2009

humh <3

baru mengenalnya...

diamnya...

cueknaa....

blogna...

jejaring sosial internetna...

memikirkannya...

smuanaa...

heemmm....fall in love....

jeleek..kamu harus baca ini...

kenapa jelek...hari ini aku gag nemuin senyum kamu?

kamu mau boong dgn cara apapun aku bakal tetep tau dan ngrasa...

senyum hari ini hanya sebagai topeng keceriaanmu...aku tau itu jelek!

terlalu egoiskah aku untuk tak mengerti kamu?

aku temui kamu..aku harap kamu baik hari ini..
suaramu cukup parau di telpon tadi pagi...

aku temui kamu hari ini berharap aku tau kondisimu saat itu...
benerkaan...aku gag dapet senyum kamu..
yang aku dapetin cuma tatapan kosong...LAGI...dan LAGI...

aku benci itu...bukan aku egois..mana jelek yang aku kenal??!!!!

sedikit kamu bicara dan saat itulah aku mengerti..
tak perlu kamu jujur padaku atas hal itu...
terkadangpun apa yang kita inginkan tak selamanya terwujud bahkan kita miliki...

mimpi itu..harapan itu akan terwujud...
bakat itu semangat itu akan terus ada...

banyak jalan jelek..jangan menyerah!!

Tuesday, October 20, 2009

Selamat menjalankan tugas baru, SBY


terlalu banyak pro kontra terhadap bapak presiden kita satu itu...

pemilupun sudah menghasilkan...apapun dan bagaimanapun hasil pemerintahannya selama periode kemarin, saya ucapkan selamat menjalankan pemerintahan di Indonesia yang ke dua kalinya...

saya sebagai warga negara Indonesia akan mendukung bapak sebagai presiden...

=)